Sabtu, 09 Maret 2013
SEJARAH KALIGRAFI UKIR JEPARA
Sejarah Perkembangan Ukir kaligrafi indonesia
Di Indonesia, seni ukir kaligrafi merupakan bentuk
seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan,
bahkan ia menandai masuknya Islam di
Indonesia. Ungkapan rasa ini bukan tanpa alasan
karena berdasarkan hasil penelitian tentang data
arkeologi seni kaligrafi Islam yang dilakukan oleh
Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, kaligrafi gaya ukir
Kufi telah berkembang pada abad ke-11, datanya
ditemukan pada batu nisan makam Fatimah binti
Maimun di Gresik (wafat 495 H/1082 M) dan
beberapa makam lainnya dari abad-abad ke-15.
Bahkan diakui pula sejak kedatangannya ke Asia
Tenggara dan Nusantara, disamping dipakai
Kamis, 07 Maret 2013
SMKN 2 JEPARA ( KAYU )
LUKI AULIA
Joni Prasetyo, siswa kelas XII program keahlian kriya kayu di SMK Negeri 2 Jepara, Jawa Tengah, sedang menyelesaikan ukiran kayu relief relung. Relief motif flora satu per satu ditatahnya dengan palu kayu dan 30 alat tatah aneka ukuran miliknya.
Bahan kayu jati berukuran 109 cm x 68 cm itu bisa diselesaikannya dalam dua bulan dan dijual dengan harga Rp 2,5 juta-Rp 5 juta.
Tangan Joni terampil menggerakkan tiga jenis alat tatah secara bergantian membentuk daun-daun dalam relief yang termasuk motif ukir khas Jepara itu. Meski begitu kesalahan sesekali terjadi. Ujung daun atau bunga yang patah sudah biasa ia alami.
”Motif daun paling susah. Kalau ada yang patah, tinggal dilem. Tidak akan kelihatan kalau sudah di-finishing pakai melamin,” kata Joni.
Joni dan siswa kriya kayu lainnya sudah mulai belajar desain dan mengukir kayu sejak kelas X. Selain relief relung dan relief Ramayana (dijual dengan harga Rp 4,5 juta), berbagai produk kriya kayu telah dihasilkan, seperti papan nama, kaligrafi, asbak, nampan, dan mebel. Lama pengerjaan untuk satu produk kriya kayu bergantung pada ukuran bahan dan kerumitan motifnya. Kaligrafi, misalnya, hanya membutuhkan waktu kira-kira satu minggu. Adapun untuk satu set mebel yang terdiri dari satu meja dan empat kursi bisa selesai dalam satu semester.
Sebelum membuat sebuah produk, siswa dituntut bisa merancang desain hasil pengembangan dari motif desain standar yang telah diajarkan
SMKN 2 JEPARA
Jurusan Keahlian

Karena tujuan sekolah kami adalah untuk mencetak manuasia yang ahli, kami mempunyai beberapa jurusan di sekolah kami, diantaranya yaitu :
Desain dan Produk Kria Kayu
Pada program Desain dan produk kria kayu mempunyai kondisi dengan jumlah siswa 99 siswa dengan rincian : siswa kelas 1 ada 34 siswa, siswa kelas 2 ada 36 siswa, dan siswa kelas 3 ada 29 siswa. Didalam program keahlian ini mempunyai beberapa bengkel praktek. Dengan tenaga pengajar yang berjumlah 8 guru. yaitu lulusan S1 sebanyak 6 orang dan D3 sebanyak 2 orang.
Desain dan Produk Kria Logam
Pada program Teknik Gambar Bangunan mempunyai kondisi dengan jumlah siswa 104 siswa dengan rincian : siswa kelas 1 ada 33 siswa, siswa kelas 2 ada 37 siswa, dan
siswa kelas 3 ada 34 siswa. Didalam program keahlian ini mempunyai beberapa bengkel praktek. Dengan tenaga pengajar yang berjumlah 8 guru. yaitu lulusan S1 sebanyak 8 orang.
ASAL MULA NAMA JEPARA, KARIMUNJAWA, WELAHAN
( JEPARA ) Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M) mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas. Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521).
Rabu, 06 Maret 2013
sejarah mayong jepara jawa tengah
CERITA MASAYARAKAT DARI MAYONG JEPARA RORO AYUCERITA MASAYARAKAT DARI MAYON MAS SEMANGKIN
1. PENDAHULUAN
Roro Ayu Mas Semangkin adalah puteri dari Sultan Prawoto yang ke-4. Sewaktu kecil di asuh oleh bibinya Ratu Kalinyamat. Setelah dewasa dijadikan sebagai “ garwo selir” dari “Panembahan Senopati”/ Sutowijoyo dari Kerajaan Mataram. Roro Ayu Mas Semangkin kembali ke Jepara untuk menumpas “pagebluk” yang disebabkan oleh kerusuhan dan
banyaknya perampokan di wilayah desa Mayong. Beliau menjadi panglima perang mendampingi Lurah Tamtomo Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan. Atas keahlian dan ketangkasan dari Roro Ayu Mas Semangkin kerusuhan tersebut dapat dipadamkan. Setelah itu Roro Ayu Semangkin tidak mau kembali ke Mataram dan mendirikan pesanggraha.
sejarah tenun troso jepara jawa tengah
kerajinan tenun jepara
kerajinan tenun jepara
jepara memiliki berbagai macam bentuk tenun khususnya tenun dari troso yang di produksi oleh sebagian besar orang-orang troso dan diberi nama tenun trosokerajinan tenun jepara khususnya tenun troso itu pembuatanya tidak dengan mesin tapi menggunakan alat tenun,tenun troso juga memiliki motif diantaranya motif tenun SBY,motif tenun mirsis,motif tenun etnik,tenun sutra,batik troso,dll
kerajinan tenun jepara ini juga sudah terkenal diluar daerah jepara dan mampu bersaing dengan tenun buatan daerah-daerah lainnya
Selasa, 05 Maret 2013
Sejarah Kota Ukir Jepara
SEJARAH SINGKAT KOTA UKIR JEPARA
Jauh sebelum adanya kerajaan-kerajaan ditanah jawa. Diujung sebelah utara pulau Jawa sudah ada sekelompok penduduk yang diyakini orang-orang itu berasal dari daerah Yunnan Selatan yang kala itu melakukan migrasi ke arah selatan. Jepara saat itu masih terpisah oleh selat Juwana.
Sejarah Kota Jepara – Mari kita bahas artikel terbaru dari Toko Mebel Jepara. Sumber informasi terpercaya seputar sejarah lahirnya kota Jepara sebagai Kota ukir ini dari http://www.jeparakab.go.id. Nama Jepara berasal
dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudi-an
menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang
berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang
(618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tiong-hoa
bernama Yi-Tsing per-nah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau
Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa, dan diyakini berlokasi di
Keling, ka-wasan Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja
wanita bernama Sima atau Ratu Shima yang dikenal sangat tegas dan ke-ras
dalam memimpin rakyatnya.

Langganan:
Postingan (Atom)


